Tradisi Padusan dan Nyadran, Bolehkah?

0

Bulan Ramadhan menjadi salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia. Ribuan Muslim mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci ini. Persiapan dari segi rohani maupun jasmani. Banyak masyarakat Indonesia mempersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan dengan melakukan berbagai tradisi. Tradisi yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah lakukan seperti nyadran atau ziarah kubur menjelang Ramadhan dan padusan. Tardisi tersebut dilakukan di sore hari sebelum Ramadhan.

Hukum Nyadran

Berziarah ke kuburan itu disunnahkan, dan tidak ada batasan waktunya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berziarah pada malam dan siang hari. Maka tidak ada batas waktu yang disyari’atkan untuk berziarah.

Apabila seseorang melakukan ziarah kubur pada waktu yang di khususkan seperti pada hari Jum’at dan bulan Ramadhan hal ini tidak ada ajarannya, tetapi berziarahlah bila memungkinkan untuk mengingat akhirat dan kematian.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Berziarahlah ke kubur, karena itu mengingatkanmu akan akhirat. Jika kamu mengunjungi kubur,  katakanlah:

يَرْحَمُ اللّهُ المُسْتَقْدِمِبْنَ مِنَّا وَالمُسْتَأْخِرِيْنَ نَسْأَلُ اللّهَ لَنَا وَلَكُمْ العَافِيَةَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ، وَالمُسْلِمِيْنَ،

“وَإِنَّا -إِنْ شَاءَ اللّهُ- بِكُمْ لَاحِقُوْن

Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur, agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun, jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama, inilah yang salah. Kesalahan karena tidak ada ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

Nyadran atau berziarah ke kubur sebelum Ramadhan tidak ada ajarannya, dan ini adalah perbuatan bid’ah.

Baca juga artikel kami Hukum Menikah Ketika Masa Iddah Dan Konsekwensinya

Hukum Padusan

Orang Jawa menyebut mandi dengan adus, padusan atau mandi bersama antara laki laki dan perempuan dalam satu sungai. Mandi yang wajib  untuk orang yang hendak melakukan shalat jum’at, bersih dari hadas besar seperti junub, haidh, dan nifas. Selain ini tidak ada anjuran untuk mandi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

Mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap muhtalim (yang telah mimpi basah, artinya dewasa).” (HR. Bukhari no. 879 dan Muslim no. 846)

Masyarakat Indonesia meyakini air padusan memberikan keberkahan. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, mereka mandi bersama dengan niat menghilangkan dosa, mengharap agar menyambut bulan Ramadhan dengan badan yang suci. Banyak masyarakat Indonesia mempercayai keyakinan ini. Perlu kita ketahui bersama, bahwa puasa tidak mensyaratkan dengan suci dari hadas. Maka, mandi sebelum Ramadhan itu tidak disyariatkan serta merupakan keyakinan yang salah.

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parah lagi, acara padusan ini masyarakat melakukannya dengan bercampur antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Sungguh ini merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengikuti ajaran Islam. Wallahu a’lam bishshowwab. [Sahlu Ayimas/An-najma]

Referensi

Leave A Reply

Your email address will not be published.