Cut Nyak Dien

0

Mujahidah dari Tanah Aceh

Cut Nyak Dien merupakan seorang putri bangsawan yang dilahirkan dari keluarga yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutai, seorang yang menjabat sebagai Uleebalang VI Mukim. Sedangkan, ibunya adalah putri dari Uleebalang Bangsawan Lampagar.

Berwajah cantik, baik budi pekertinya, tangkas tingkah lakunya, dan mempunyai watak yang luar biasa menjadi kata yang pas disematkan pada diri Cut Nyak Dien. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama dan rumah tangga. Sebuah pendidikan yang membentuknya menjadi sosok wanita shalihah yang taat kepada Allah dan suami. Tak hanya itu, beliau juga dibesarkan dalam suasana perjuangan yang amat dahsyat, yaitu suasana perang Aceh. Tumbuhlah Cut Nyak Dien menjadi wanita yang tabah, teguh pendirian dan tawakkal.

Cut Nyak Dien dalam Kancah Peperangan Aceh

Pada usianya yang masih belasan tahun, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, seorang pahlawan dalam peperangan melawan kolonial Belanda. Kisah perjuangan Cut Nyak Dien dan para pejuang Aceh lainnya dimulai saat Belanda pertama kali menyerang Aceh pada tahun 1873. Pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di pantai Ceureumen di bawah pimpinan Kohler dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya.

Melihat peristiwa tersebut, Cut Nyak Dien tidak tinggal diam. Dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berserulah ia, “hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikanlah sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah SWT tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu!”.

Bentuk perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Namun bertepatan pada tanggal 29 Juli 1878 di sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, sang suami tercinta, Teuku Ibrahim Lamnga gugur sebagai seorang mujahid pembela agama dan tanah air.

Baca juga artikel Mulia dengan Islam!

Akhir Perjuangan Cut Nyak Dien

Pada tanggal 6 November 1905, Belanda menyerbu ke hutan, tempat dimana Cut Nyak Dien bersembunyi. Dalam serbuan itu situasi menakdirkan Cut Nyak Dien tertangkap. Penangkapan tersebut dilatar belakangi oleh sikap menyerah dari pengikut Cut Nyak Dien sendiri, yaitu Panglima Laot Ali. Panglima Laot Ali melapor akibat ia tak tahan lagi melihat kondisi Cut Nyak Dien yang sudah tua renta dan penglihatannya tak lagi berfungsi dengan baik.

Akhirnya keputusan mengasingkan Cut Nyak Dien itu dipilih Belanda. Perempuan gagah berani itu dibawa ke Batavia hingga kemudian diasingkan ke Sumedang. Meski kala itu Cut Nyak Dien tak mampu melihat, namun dirinya masih tetap mengajar Al-Qur’an kepada ibu-ibu warga Sumedang. Sebab, selain beliau seorang mujahidah , beliau juga seorang hafidzah yang telah hafal Al-Qur’an. Sebuah kisah yang jarang diketahui banyak orang atau mungkin sengaja disembunyikan dari khalayak.

Akhirnya, pada tanggal 6 November 1908, sang mujahidah yang berjuang bukan hanya dengan tenaga dan kekuatannya, tapi juga dengan pemikiran dan ketangguhannya membela agama tutup usia di tempat pengasingannya. Wallahu a’lam bishawab. (Aulia Susanti/an-najma.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.