Serial Qolbun Salim #7

0

Hakikat Tawakal

Tawakal merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki seorang hamba, sebab tawakal merupakan bentuk kepasrahan dan pengakuan seorang hamba atas lemahnya diri di hadapan Allah Ta’ala. Lantas bagaimanakah hakikat tawakal yang sebenarnya? Semoga kita termasuk di antara hamba-Nya yang dianugerahi sifat tawakal. Amiin

Definisi Tawakal

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tawakal adalah berpasrah diri atas kehendak Allah Ta’ala dan percaya dengan sepenuh hati kepada Allah.

Sedangkan menurut istilah tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah dalam menggapai duniawi maupun ukhrawi. Sehingga, semua harapan seseorang yang menerapkan sikap tawakal ini benar-benar bergantung kepada-Nya semata.

Tawakal Mencakup Segalanya

Tawakal termasuk sifat yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Karena itu, seorang Muslim harus mempunyai sikap tersebut. Akhlak inilah yang menjadi ciri khas seorang mukmin. Dengan tawakal, hati terhubung langsung kepada Allah sehingga seorang mukmin tidak mencari pertolongan dan perlindungan kepada makhluk, tetapi hanya kepada-Nyalah ia bergantung. Sikap inilah yang melahirkan keseimbangan dalam usaha hamba di dunia, berpegang teguh pada tali atau pertolongan Allah Ta’ala dalam berusaha menyerahkan hasilnya dengan sepenuh hati kepada kehendak-Nya. Apa pun takdir yang Dia tetapkan, niscaya orang yang bertawakal akan dapat menerimanya dengan lapang dada. Tawakal adalah akhlak mulia yang disandangkan bagi hamba-hamba pilihan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ الَّلهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَتُهُ زَدَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْن

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2)

Meluruskan Perspektif Tawakal

Tawakal dan usaha selalu berjalan bersama dan tidak dapat dipisahkan. Para ulama sepakat bahwa tawakal tidak bertentangan dengan konsep dan usaha dan kerja keras dalam mewujudkan sesuatu. Bahkan tawakal tidak dibenarkan jika tidak disertai dengan usaha yang maksimal, karena keduanya bersifat saling melengkapi.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk menjauhi sikap berpangku tangan, yaitu ingin meraih sesuatu hanya dengan bersandar pada doa tanpa berupaya sesuai yang disyariatkan. Karena doa tanpa disertai usaha bukanlah tawakal. Dan juga Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam selalu mengarahkan umatnya supaya bersungguh-sungguh dalam meraih apa-apa yang bermanfaat bagi mereka, barulah setelah itu menyerahkan segalanya kepada Allah dan Ridha dengan keputusan-Nya. Beliau bersabda:

إِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِالَّلهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ (كَذَا) لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: ((قََدَّرَ الَّله وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ  لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ))

Bersungguh-sungguhlah meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah. Apabila musibah menimpamu, janganlah mengatakan: ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu, tentu hasilnya begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah olehmu: ‘Ini sudah menjadi takdir Allah, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Sebab beranda-andai akan membuka pintu kejahatan syaitan.” (HR. Al-Bukhari)

Dari hadits di atas Rasullulah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membagi harapan manusia menjadi dua bagian yaitu,

Pertama, harapan yang mungkin diraih atau dihindari. Untuk mewujudkan harapan ini, seseorang harus berusaha sungguh-sungguh seraya meminta pertolongan Allah Ta’ala.

Kedua, sesuatu yang sudah menjadi takdirnya. Ia tidak mungkin meraih sesuatu yang ditakdirkan terluput darinya, atau menolak sesuatu yang sudah ditakdirkan akan menimpa dirinya. Untuk urusan ini seseorang harus bersikap Ridha, pasrah dan tetap tenang dalam menjalaninya.

Telusuri lainnya

Fadhilah Tawakal

Di antara manfaat dan keutamaan tawakal kepada Allah yaitu,

  1. Dicintai Allah

Siapa yang tidak suka dicintai oleh Rabbnya? Pasti semua hamba mendambakan cinta dari Allah Ta’ala, sesungguhnya cinta kepada Allah adalah level cinta yang paling tinggi. Dengan menggantungkan diri atau bertawakal hanya kepada-Nya kita akan mendapatkan dari Allah Ta’ala cinta yang hakiki. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang hanya bertawakal kepada-Nya, seperti firmannya dalam surat Ali-Imran ayat 159 yang artinya, “Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.”

  • Selalu Dicukupi Allah

Bagi hamba yang bertawakal hanya kepada Allah, setelah dicintai oleh-Nya, pasti dia dalam setiap keadaan akan ditolong, dilindungi, dibela dan dicukupi kebutuhannya. Seperti yang terkandung dalam firman-Nya dalam surat at-Thalaq ayat tiga yang artinya “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”

  • Masuk Surga Tanpa Hisab

Bagi orang-orang yang bertawakal akan diberi ganjaran masuk surga tanpa adanya hisab seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tujuh puluh ribu umatku akan masuk surga tanpa hisab.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah? “Beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah, tidak melakukan tathayyur, tidak berobat dengan menggunakan kay dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”(HR. Bukhari dan Muslim)

  • Dihindarkan dari Gangguan Syaitan

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa jika seorang keluar dari rumahnya dan berdoa:

بِسْمِ الَّلهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى الَّلهِ لَا حَوْلَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاالَّلهِ

“Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin-Nya.”

Maka ketika itu dikatakan kepadanya: “Wahai hamba Allah, kamu telah diberikan hidayah, dicukupkan kebutuhanmu, dan dijaga keburukan musuhmu. “Kemudian Syaitan yang hendak mengganggu pun berpaling dan menjahui darinya, sehingga syaitan lain berkata kepada syaitan tersebut: bagaimana mungkin kamu bisa menggoda hamba yang telah diberi hidayah, dicukupi dan dijaga dari keburukan? (HR. Abu Dawud)

  • Melapangkan Rezeki

Sesuai hadits Umar bin Khattab, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya, pasti Dia akan menurunkan rezeki bagi kalian sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Burung pergi di pagi buta dalam keadaan lapar, lalu kembali pada waktu petang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

  • Mengusir Waswas dan Pesimis

Apabila seorang hamba benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya perasaan takut, waswas dan pesimis sirna. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu  meriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Thathayyur adalah bagian dari syirik. Siapa pun di antara kita pasti pernah (dihantui pertanda buruk di hatinya), tetapi Allah menghapusnya dengan tawakal.” (HR. At-Tirmidzi)

  • Menguatkan Hati

Manusia adalah makhluk yang lemah. Namun ketika bersandar kepada Allah Ta’ala, Rabb Yang Maha Kuat, niscaya ia akan memperoleh kekuatan dan keteguhan hati. Ibnu Qayyim berkata: “Tawakal merupakan dinding penahan yang terkuat bagi seorang hamba ketika berhadapan dengan tekanan, kezhaliman dan serangan musuh meskipun semua itu berada di luar batas kemampuannya. Wallahu A’lam bish Shawab (@Ittazah/ an-najma.com)

Referensi: Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari, Aktualisasi Akhlak Muslim

Leave A Reply

Your email address will not be published.