Fuqaha Generasi Tabi’in #4

0

Urwah Bin Zubair

(Seorang Ahli Ilmu dan Fikih)

Alkisah, pada suatu hari ada perkumpulan anak muda yang mulia lagi terpilih di antara pemuda-pemuda Islam yang lain. Mereka adalah Mush’ab bin Zubair, Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar. Tiga di antara mereka adalah putra dari sahabat mulia Rasulullah, Zubair bin Awwam. Di salah satu sudut Ka’bah mereka bermajlis dan menyebutkan  harapan-harapan mereka.

Urwah berkata, “Aku ingin orang-orang mengambil ilmu dariku.”

Mush’ab berkata, “Sedangkan aku ingin menguasai wilayah Irak.”

Abdullah berkata, “Sedangkan aku mengharapkan kekhalifahan.”

Adapun Ibnu Umar berkata, “Aku mengharapkan ampunan.”

Semua harapan dari 3 putra sahabat Zubair bin Awwam itu telah terwujud. Sepeninggal Yazid bin Mu’awiyah khalifah kedua bani Umayyah, Abdullah bin Zubair dibaiat menjadi khalifah. Kemudian ia terbunuh di Makkah, tempat ia mengutarakan harapannya dahulu. Sedangkan Mush’ab, Ia menduduki posisi pemimpin setelah peristiwa pembunuhan saudaranya. Dan salah satu daerah kekuasaannya adalah Irak, ia pun juga terbunuh karena membela wilayah kekuasaannya. Adapun Urwah, harapannya telah tercapai setelah tahun-tahun penuh perjuangan yang melelahkan dibarengi tekad yang keras dari sosok seorang ahli ilmu yang tidak akan melunak demi mewujudkan tujuannya yang mulia.

Urwah bin Zubair adalah putra dari pembela Rasulullah, Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab. Nenek dari ayahnya adalah bibi dari Rasulullah, Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Ibunya adalah Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq yang mendapat gelar Dzatun Nithaqain, yang memiliki dua ikat pinggang. Bibinya adalah Ummul Mukminin Aisyah. Ini adalah sebuah garis keturunan yang mulia, memiliki ayah yang berjulukan pembela Rasulullah, memiliki ibu dari anak sahabat terdekat Rasulullah, dan mejadi kekeponakan dari istri Rasulullah yang merupakan wanita penghafal hadits terbanyak.

Seorang Ahli Ilmu dan Fikih

Sebagai keponakan dari Aisyah, tentu Urwah memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan belajar padanya. Kesempatan ini menjadikan Urwah senantiasa mereguk ilmu dari bibinya, sehingga ia dapat menangkap dan memahami setiap hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Hal ini menjadi salah satu wasilahnya kepada apa yang pernah ia harapkan di salah satu sudut Ka’bah. Qabishah bin Dzuaib berkata tentang pengakuannya akan ilmu yang dimiliki Urwah, “Aku dan Abu Bakar bin Abdurrahman senantiasa mendatangi Abu Hurairah, sedangkan Urwah mengalahkan kami dengan kedatangannya kepada Aisyah.”

Suatu hari Urwah pernah berbicara kepada putra-putranya, sebuah nasehat yang memotivasi putra-putranya yang telah menjadi pemuda, “Apa alasan kalian tidak belajar, apabila sekarang kalian adalah anak-anak kecil dari kaum ini, maka sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua dari kaum ini. Lalu apa baiknya orang tua yang menjadi tua dalam keadaan bodoh!?” Urwah sangat menekankan pada putra-putranya untuk menuntut ilmu. Urwah berkata, “Wahai anak-anakku, pelajarilah ilmu dan curahkanlah segala kemampuan kalian untuk menunaikan haknya. Sungguh apabila pada saat ini kalian adalah kalangan orang-orang kecil di antara kaum kalian, maka boleh jadi Allah akan menjadikan kalian para pembesar mereka melalui ilmu.”

“Seandainya bibi Aisyah meninggal dunia hari ini, maka aku tidak akan menyesali hadits yang ia miliki, karena aku telah menghafalnya.” Ini adalah gumaman Urwah saat ia melihat kepada dirinya pada empat tahun sebelum Aisyah meninggal dunia. Sebuah pengakuan diri, bahwa dirinya benar-benar menghafal dan memahami hadits yang ada pada Aisyah. Urwah adalah seorang hafizh yang memiliki ingatan yang kuat. Banyak ulama dan kaum bangsawan pada zamannya yang memberikan kesaksian atas ilmu yang dimilikinya, terutama Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan, “Aku tidak menemukan orang yang lebih pandai daripada Urwah bin Zubair, dan aku tidak mengetahui bahwa ia mengetahui sesuatu yang aku tidak tau.”

Telusuri lainnya

Ujian Hidupnya

Seorang khalifah pada zaman pemerintahan Bani Umayyah yang bernama Walid bin Abdul Malik pernah mengundang Urwah bin Zubair untuk berkunjung kepadanya di Damaskus. Urwah disertai satu putranya yang paling besar memenuhi undangan untuk berkunjung ke istana khalifah. Sesampainya di sana, Urwah disambut dengan baik dan dipersilahkan untuk bebas melihat-lihat istana. Salah satu tempat yang menarik untuk dilihat oleh putra Urwah adalah tempat penambatan kuda istana. Ketika ia sedang asyik melihat kuda-kuda khalifah yang berdiri di atas tiga kakinya, tiba-tiba salah satu kakinya menendang putra Urwah dengan sepakan yang mematikan, kaki kuda itu menyepak wajah dan tubuhnya sampai ia terpelanting ke tanah dan meninggal. Urwah bin Zubair sangat terkejut mendengar kematian putranya, namun Urwah tunduk akan ketetapan Allah lalu ia menguburkan putranya dengan tangannya sendiri dan kembali dengan penuh kesedihan dan penyesalan. Namun Urwah justru mengobati penyesalan itu dengan kesabaran dan ketaqwaan dengan terus mengucapkan kaliamat istirja’. 

Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Urwah merasa pikirannya kacau. Ia berharap agar Allah memberinya kesabaran pada musibah yang menimpanya dan selalu membasahi lisannya dengan dzikir kepada Allah. Saat itu, tiba-tiba betisnya terkena penyakit dan hal ini sudah menyerangnya sejak dalam perjalannya menuju Damaskus. Rasa sakit pada luka kakinya yang kemudian bernanah itu kembali Urwah rasakan. Rasa sakit yang teramat sangat, yang hampir-hampir Urwah tak sanggup menanggungnya karena betisnya membengkak dan pembengkakan itu semakin meyebar dengan sangat cepat.

Khalifah pun memanggil para dokternya dan segera memeriksa kaki Urwah. Hingga kesepakatan para dokter adalah untuk segera megamputasi kaki Urwah, supaya penyakit tidak menggerogoti anggota tubuh yang lain. Urwah pun menuruti keputusan dokter dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Setelah semua alat amputasi siap, karena dokter mengetahui rasa sakitnya diamputasi, maka Urwah diberi minuman yang memabukkan supaya tidak merasakan sakitnya amputasi. Namun Urwah menolaknya mentah-mentah. Urwah berkata, “Tidak! Aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatan yang aku harapkan.”  Sebuah sikap hati-hati yag sangat beresiko, namun Urwah justru benar-benar memasrahkannya pada Allah. Dan kalau bukan karna ketajamannya dalam berfikir dan dalamnya ilmu yang ia peroleh, maka hal ini tentu akan diabaikan demi kesembuhan dan terhindar dari rasa sakit yang sangat.

Dokter tetap bersikeras untuk membius Urwah, karena khawatir Urwah akan menghentakkan kakinya saat amputasi. Sebuah jawaban penuh keimanan keluar dari seorang lisan ahli fikih, “Aku tidak ingin salah satu bagian anggota tubuhku dipotong tanpa aku merasakan sakitnya, dan aku menyerahkan hal itu kepada Allah”. Akhirnya dokter mendatangkan beberapa orang untuk memegangi Urwah supaya Urwah tidak menggerakan tubuhnya saat amputasi. Namun hal itu juga ditolak oleh Urwah seraya berkata, “Aku tidak memerlukan mereka, aku akan memalingkannya dengan berdzikir dan bertasih selama kalian melaksanakan tugas kalian.”

Dokterpun mendekatinya dan mulai melakukan tugasnya. Dari menyayat daging pada betisnya, dan dilanjutkan menggergaji tulangnya. Saat hal ini berlangsung, Urwah terus bertakbir dan bertasbih sampai betisnya selesai diamputasi. Untuk menghentikan darah yang mengalir dan mengobati lukanya, luka itu harus dicelupkan ke dalam minyak yang dipanaskan. Disinilah Urwah pingsan dalam waktu yang lama hingga para ahli sejarah menyebutkan bahwa Urwah pingsan selama satu hari, dan tidak membaca al-Qur’an yang telah menjadi rutinitasnya sehari-hari sejak ia menjadi pemuda yang hafal al-Qur’an. Begitulah jika keimanan telah memenuhi hati seseorang, ia akan senantiasa berhati-hati walau terhadap hal-hal yang diperbolehkan sekalipun. Ini lah kisah Urwah bin Zubair, seorang yang ahli ilmu dan fakih. Wallahu A’lam.

REFERENSI

Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi, Kisah Para Tabi’in, Ummul Qura: Jakarta Timur,2015

Leave A Reply

Your email address will not be published.