Nyai Hj. Masriyah Amva

0

(Ada Sebagai Pelengkap Bukan Penyaing)

Nyai Hj. Masriyah Amva, siapakah beliau? Di tengah ramainya virus corona yang mengkhawatirkan seluruh masyarakat dunia, beberapa media global tengah heboh memperbincangkan negara yang dianggap berhasil melawan virus corona berkat peran pemimpin mereka yang tidak lain adalah seorang perempuan. Di antaranya adalah Kanseler Angela Market di Jerman, perdana Mentri Jacinda Ardern di Selandia Baru, Presiden Negara Taiwan Tsai Ing-wen, dan beberapa negara lainnya. Merekalah para perempuan internasional yang menuai pujian berkat keberhasilan mereka dalam memimpin di masa pandemi virus corona ini.

Tidak hanya pemimpin wanita dunia saja yang berhak menuai pujian atas keberhasilan kepemimpinan mereka. Negara kita pun memiliki perempuan-perempuan hebat yang mampu memimpin di beberapa lembaga atau organisasi dan berhak pula mendapat apresiasi, misalnya di sebuah pondok pesantren putra-putri Kebon Jeruk al-Islami yang berlokasi di daerah Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Sebuah pondok pesantren yang terletak di Jawa Barat ini bisa dibilang sebagai satu-satunya pesantren di Indonesia yang pimpinannya adalah seorang perempuan.

Nyai Hj. Masriyah Amva atau biasa disebut dengan ibu Masriyah lahir di Babakan, pada tanggal 13 Oktober 1961. Putri sulung dari enam bersaudara ini terlahir dari pasangan KH. Amrin Hannan, yang merupakan salah satu putra dari KH. Abdul Hannan. Ibunya yang bernama Nyai Hj. Variyatul ‘Aini yang mana keduanya merupakan pengurus pondok pesantren Kebon Jeruk al-Islami itu sendiri. Konon, nama belakang ibu Masriyah yaitu Amva, merupakan singkatan dari nama kedua orang tua beliau, yaitu Amrin dan Variyatul.

Terlahir di lingkungan pesantren sebagai seorang putri kiai, tidak membuat ibu Masriyah bersikap manja, dengan sikap yang ingin dilayani dan dipenuhi semua keinginannya. Sebaliknya, beliau sejak kecil sudah terdidik hidup mandiri dan sederhana berkat pendidikan sikap disiplin yang beliau peroleh dari ibunya.

Sejak dini beliau memberanikan diri menjajahkan jualannya di sekitar pesantren, gelarnya sebagai putri dari seorang kiai tak membuatnya malu untuk melakukannya. Uang hasil dari usahanya dipakai untuk kebutuhan dirinya, menabung, bahkan disedekahkan. Tak hanya pandai dalam naluri kewirausahaan, beliau pun mampu meraih berbagai prestasi yang menghantarkan beliau menjadi pimpinan sebuah pondok pesantren di Cirebon.

Waktu membawanya tumbuh menjadi gadis dewasa yang siap membangun mahligai rumah tangga dengan seorang laki-laki bernama KH. Syakur Yasin, yang kini menjadi pimpinan di pesantren Candangpinang, Indramayu. Namun rumah tangganya tak berjalan mulus sehingga menuntut keduanya untuk bercerai. Perceraian mereka berdua tidak begitu jelas penyebabnya.

Ada yang meduga bahwa setelah menikah dengan Buya Syakur (panggilan akrab KH. Syakur Yasin), keduanya menjalani kehidupan yang layak dan mapan namun disayangkan harus berujung pada perceraian yang disebabkan karena rasa ketidaknyamanan Buya Syakur setelah memiliki semuanya. Salah satu faktornya disebabkan karena ketidakmampuan Buya Syakur menerima Nyai Masriyah apa adanya.

Beberapa waktu setelah perceraiannya dengan Buya Syakur, Nyai Masriyah bertemu dengan KH. Muhammad atau yang biasa disebut akang oleh beliau. Seorang laki-laki rendah hati yang konsistensi dan memiliki ilmu yang dalam. Setelah pernikahan keduanya, ibu Masriyah merasa menemukan ketenangan dalam kehidupan rumah tangganya yang baru.

Sikap suaminya yang terkenal sabar dan rendah hati serta mampu menerimanya apa adanya, membuat ibu Masriyah tak mampu menghapus jejak kenangan bersamanya, terlebih setelah kembalinya akang kepada Sang Khaliq. Kepergian akang bagi Nyai bagaikan tamparan keras bagi hidupnya.

Baca juga

Setelah berhasil menemukan kebahagian setelah kegagalan rumah tangganya yang pertama, bagai badai yang menghempasnya dengan keras membentuk luka dalam yang tak terobati. Ibu Masriyah tidak memilih berlarut lama dalam keterpurukan rasa sedih, beliau memilih untuk menyerahkan semuanya kepada Allah.

Kehidupan yang tampak bahagia pun tak luput dari kesedihan, bahkan derai air mata. Kehidupan beliau layaknya banyak orang, yang melalui dengan penuh tantangan dan ujian. Namun sikap bijak beliau dalam merespon setiap ujian yang menimpa dapat membuat hati lain menginginkan kehidupan beliau yang tampak bahagia.

Setelah kematian akang, ibu Masriyah banyak mengambil pelajaran dari pribadi mendiang suaminya tersebut. Tuntutan untuk meneruskan peran akang dalam mengurus pondok pesantren membuat beliau dapat menuangkan kemampuannya dalam sifat disiplin yang selalu diperlukan oleh seorang pemimpin.

Perjalanan hidup ibu Masriyah yang penuh dengan lika-liku memberikan banyak pelajaran tentang makna pernikahan dan relasi suami-istri. Mengajarkan tentang pentingnya menyeimbangkan peran antara suami-istri dalam mencapai rumah tangga yang bahagia.

Seorang laki-laki atau suami memang berperan sebagai kepala keluarga, sedang istri pun memiliki peran sebagai seorang pemimpin bagi anak-anaknya dalam menentukan masa depan mereka. Perempuan pun  bisa menjadi pemimpin, namun kepemimpinannya tidak melebihi seorang laki-laki, sesuai dengan ketetapan Allah dalam al-Qur’an bahwa seorang laki-laki merupakan pemimpin atas perempuan. Wallahu A’lam bish Shawab (Adnaw-js/ an-najma.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.