Rahmah El-Yunusiyyah

0

(Ulama Perempuan dari Tanah Minang)

Siapa Rahmah el-Yunusiyyah? Menjelajah sejarah tanah minang, akan kita dapati banyak peran tokoh-tokoh luar biasa. Siapa yang tak mengenal Haji Malik Karim Amrullah atau yang terkenal dengan sebutan Buya hamka? Seorang ulama sekaligus sastrawan yang melahirkan banyak karya-karya fenomenal. Kemudian ada ulama besar Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Agus Salim, Ilyas Yakoub, Muhammad Natsir dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pembaharu yang lahir dari tanah minang. Ada juga peranan tokoh wanita dalam sejarah Indonesia, khususnya Sumatra Barat. Jejak perjuangan tokoh wanita ini memberikan banyak pengaruh bagi banyak kalangan. Namanya tak terlalu dikenal khalayak, namun apa yang dia perjuangkan dapat mendunia. Dialah Rahmah el-Yunusiyyah ulama perempuan dari tanah Minang yang luar biasa hebat.

Rahmah el-Yunusiyyah lahir disebuah rumah gadang di jalan lubukmata kucing pada hari Jumat, 29 Desember 1900 M, bertepatan pada tanggal 1 Rajab 1318 H. Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Syaikh Muhammad Yunus dan Rafi’ah.

Ayahnya, Syaikh Muhammad Yunus adalah seorang ulama besar pada  zamannya. Sedangkan ibundanya yakni Rafi’ah juga bukan orang sembarangan. Dia adalah keturunan ulama asal Langkat, Bukit Tinggi, Sumatra Barat dan masih memiliki pertalian darah dengan Haji Miskin, salah satu tokoh gerakan paderi. Sedangkan kakaknya yang tertua, Zainuddin Labay el-Yunusiyyah adalah seorang pendiri lembaga pendidikan bernama Thawalib.

Perjalan Hidup Rahmah

Ketika ayahandanya wafat, ibunya berinisiatif menjadikan murid Syaikh Mahmud Yunus sebagai guru mengaji Rahmah. Sedangkan dua orang kakaknya, Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah Belanda (HIS) mengajari Rahmah baca tulis Arab dan latin di rumah. Di bawah asuhan ibu dan kakaknya, Rahmah tumbuh menjadi anak yang memiiki kemauan keras dan teguh hati.

Menginjak usia sepuluh tahun, Rahmah sudah sangat aktif mengikuti kajian dalam bentuk halaqah di beberapa surau di kota Padang Panjang. Bahkan dia pernah belajar ilmu fikih kepada H. Abdul Karim Amrullah. Tatkala mendaftar disebuah Madrasah Tsanawiyah, Rahmah bisa langsung masuk ke kelas tiga dengan kemampuan ilmiah yang dia miliki.

Ketika Rahmah berusia 16 tahun, dia dinikahkan dengan seorang alim yang bernama Bahuddin Lathif dari Sumpur, Padang Panjang. Tetapi pernikahan tersebut tidak berlangsug lama. Setelah enam tahun bersama, keduanya sepakat untuk bercerai di tahun 1992. Sejak saat itu dia tidak pernah menikah lagi. Seluruh perhatiannya dia curahkan kepada anak-anak didiknya.

Telusuri lainnya

Do’a dan Impian

Dengan kapasitas ilmiah yang dia dapatkan dengan berguru ke berbagai ulama dan mengikuti halaqah-halaqah, Rahmah memiliki impian yang sangat besar dalam hidupnya. Yaitu mendirikan sebuah lembaga pendidikan untuk para wanita. Dalam sebuah catatan hariannya Rahmah menulis:

 “Ya Allah, Ya Rabb, apabila Engkau meridhai cita-cita hamba-Mu untuk mencerdaskan anak bangsaku, terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang ilmu dan pengetahuan, maka mudahkanlah jalannya Ya Rabb.”

Tampaknya ada sebuah impian besar dalam hidupnya. Benak Rahmah dipenuhi dengan pikiran tentang bagaimana membuat anak-anak perempuan memperoleh pendidikan yang layak, menjadi cerdas dan berkarakter.

Pikiran tersebut muncul bukan karena anak-anak perempuan tidak memperoleh pendidikan. Karena pada masa itu jumlah sekolah di Minangkabau sudah membuka ruang dan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk ikut dalam proses pendidikaan bersama laki-laki. Namun, alasan yang mendorong Rahmah untuk mendirikan sekolah khusus perempuan adalah agar perempuan memperoleh hak dan kesempatan secara penuh untuk menuntut ilmu.

Dengan menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang khas dan memungkinkan mengembangkan kapasitas secara optimal. Namun tentunya tidak lepas dari fitrah dan kodrat seorang wanita. Rahmah ingin menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang diperkuat dengan berbagai macam keterampilan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari impiannya inilah, lahir sekolah Dirasah Lil Banat yang berlokasi disebuah masjid di Pasar Usang, Padang Panjang  yang didirikan pada tanggal 1 November 1923.      

Badai Perjuangan Rahmah

Di tengah perjalanan merintis sekolah Dirosah Lil Banat, Rahmah tidak banyak mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Mereka tidak yakin dengan kemampuan Rahmah bahwa seorang perempuan muslimah dapat menyelenggarakan sebuah pendidikan dengan baik. Tidak sedikit dari mereka yang mencemooh. Tetapi Rahmah tetap yakin dengan prinsip hidupnya bahwa Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya.

Kegiatan sekolah tetap berjalan sebagaimana biasa. Hingga pada tahun 1924 sekolah tersebut harus pindah kesebuah rumah namun masih di daerah yang sama. Disana para siswi sudah mulai mengenal sistem kelas yang dilengkapi dengan bangku, meja dan papan tulis.

Tahun 1924, kota Padang Panjang dilanda gempa bumi. Beberapa bangunan didaerah tersebut menjadi rusak dan runtuh. Tak terkecuali Dirosah Lil Banat juga menjadi salah satu lokasi yang dilanda gempa bumi. Sekolah tersebut mengalami rusak berat. Tetapi Rahmah tetap tegar, kemudian dia berusaha membangun kembali sekolah tersebut tanpa mendapat banyak bantuan dari pihak lain.

Bersama majelis guru, Rahmah mendirikan sebuah bangunan sederhana dari bambu beratap daun rumbai dan berlantaikan tanah. Namun seiring berjalannya waktu, sekolah Rahmah mendapatkan perhatian besar dari para wali muridnya yang merasa simpati akan perjuangannya. Hingga pada tahun 1928 Rahmah berhasil membangun gedung sekolah permanen.

Dari kisah Rahmah el-Yunisiyyah banyak pelajaran yang kita ambil. Sebagaimana pepatah orang Minang yang berbunyi ”Baraja ka nan manang, man contoh ka nan sudah”. Yang maknanya, belajar dari mereka yang telah mencapai kesuksesan dan ambil hikmah dari kegagalan orang lain. Wallahu A’lam bish Shawab (an-najma.com/ adnaw-js)

Leave A Reply

Your email address will not be published.